Selasa, 27 Februari 2024

Mengenal Yopia, Jajanan Khas Lasem Rembang Berusia Ratusan Tahun

Dani Agus
Kamis, 19 Oktober 2023 14:05:00
Kue yopia khas Lasem Rembang berusia ratusan tahun. (jadesta.kemenparekraf.go.id)

Murianews, Rembang – Rembang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Lokasi Kabupaten Rembang berada di jalur pantura paling timur yang berbatasan dengan Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur.

Selama ini, Kabupaten Rembang diketahui punya banyak destinasi wisata. Baik, wisata alam, religi, hingga situs dan benda bersejarah peninggalan masa lalu hingga batik.

Tidak hanya itu, Rembang juga dikenal memiliki banyak kuliner khas. Salah satunya adalah jajanan khas Lasem yang dikenal dengan sebutan yopia.

Nah, bagi Anda yang punya rencana liburan atau sekadar dolan ke Rembang, sempatkan waktu untuk mencicipi kuliner yang di sana, termasuk yopia tentunya.

Sejauh ini, tidak banyak yang tahu bahwa di daerah Lasem ada jajanan khas yang otentik sejak ratusan tahun silam. Yopia adalah kue kering berkulit tipis dengan isian gula Jawa. Mungkin bisa dibilang yopia merupakan akulturasi kuliner Tiongkok dengan Jawa.

Melansir dari laman Pemkab Rembang, Kamis (19/10/2023), jajanan tradisional yang diproduksi di desa Karangturi ini jika dilihat dari kulitnya saja dibuat menggunakan bahan terigu khas makanan Tiongkok. Sedangkan isiannya menggunakan gula aren yang begitu identik dengan kuliner Jawa.

Sekilas, yopia mirip nopia khas Banyumas atau bakpia dari Yogyakarta. Namun kue yopia ini lebih berongga dan besar.

Rumah produksinya berupa bangunan rumah tua yang memiliki arsitektur tionghoa. Jika datang ke sana, maka kita akan disambut seorang nenek yang sudah berusia 77 bernama Waras.

Waras merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha pembuatan kue yopia secara turun menurun dari sang buyut Tan Tjiem Liang yang merupakan generasi pertama.

Usaha pembuatan kue ini awalnya untuk memenuhi kebutuhan menghidupi keluarga sehari-hari. Yang memang sepertinya dimaksudkan juga untuk diteruskan oleh keturunannya.

”Mbah sama orang tua saya dulu tidak pernah bercerita sejarah kue ini bagaimana. Bilangnya cuma usaha ini buat makan sehari-hari, tidak perlu cari kerjaan lain. Gitu aja pesannya,” kata Waras.

Dalam membuat yopia wanita yang memiliki nama Tionghoa Siek Tian Nio ini, dibantu anak bungsunya yang bernama Tony Haryanto. Selain itu mereka juga memiliki satu karyawan untuk bagian pengemasan.

Hal unik terungkap, bahwa proses pembuatan yopia mulai dari proses pengadonan hingga pemanggangan harus dipegang oleh keturunan dari keluarga ini. Hal itu dimaksudkan agar kelak keturunannya bisa meneruskan usahanya.

Tan Tjiem Liang merupakan generasi pertama yang mengajarkan ilmu pembuatan kue yang legendaris ini. Waras menerangkan proses penjualannya pun dulu dijual keliling menggunakan toples dari rumah ke rumah dengan jalan kaki.

Mungkin bagi warga Tionghoa tidak merasa asing dengan jajanan kue yopia ini. Pasalnya dari bentuknya saja kue ini mirip dengan makanan khas tionghoa seperti bakpao dan bakpia.

Di sisi lain, tantangan dihadapinya yakni mengenalkan kue ini kepada orang Jawa. Pasalnya, tidak sedikit yang menganggap kue ini haram.

”Dulu banyak yang bilang kue ini haram. Tidak, ini kue halal, semua bisa makan. Bahannya saja cuma tepung sama gula jawa (gula aren) tidak ada campuran bahan lainnya,” jelasnya.

Meskipun dirinya terus menjaga keotentikan kue yopia dari segi rasa dan bentuk, namun ada beberapa identitas yang terpaksa harus ia hilangkan. Kue yopia yang dahulu pada bagian tengah kue memiliki cap berbentuk kupu-kupu sebagai identitas produk kue yang diproduksi. Karena ada permintaan dari pembeli, akhirnya cap tersebut tidak diberi lagi.

Masa-masa berat pernah ia alami saat ditinggal sang suami yang berusia 50 tahun. Waras harus menghidupi empat anaknya yang saat itu masih sekolah semua. Melalui kue yopia dirinya berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Berjualan dari rumah ke rumah hingga kota ke kota menggunakan transportasi bus dan keliling jalan kaki menawarkan yopia.

”Dulu sangat susah, harus keliling bawa kardus menawarkan. Sampai naik bus jualan ke Surabaya juga,” bebernya.

Sementara itu Tony Haryanto anak bungsunya yang juga merupakan penerus generasi ke 4 mengatakan, jika diingatkan kembali masa-masa susah dulu, mami (sapaan untuk ibunya) pasti menangis. Pasalnya, ia tahu persis perjuangan maminya karena dulu dirinya juga ikut berjualan keliling bersama maminya.

”Ya gitu, mami kalau diingatkan perjuangannya dulu pasti nangis. Karena berat sekali perjuangannya membesarkan empat anak sendiri jualan yopia,” kata dia.

Sejak kecil Tony selalu ikut maminya untuk keliling berjualan kue yopia. Meski berjualan hingga keluar kota Tony tidak pernah absen untuk selalu mendampinginya.

Tony mengaku saat ini sudah memiliki pelanggan tetap berjumlah puluhan yang selalu memborong kue yopia. Mereka biasanya adalah para pengusaha pusat oleh-oleh diberbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Semarang dan Surabaya. Namun demikian usaha Tony untuk memasarkan jajan ini juga tidak mudah, penolakan pun pernah ia rasakan juga.

Komentar