Selasa, 27 Februari 2024

Kisah Warga Jepara Sukses Jual Sate Kere

Faqih Mansur Hidayat
Jumat, 12 Januari 2024 14:52:00
Nur Hamidun, penjual sate kere di Jepara sedang membakar sate kere. (Murianews/Faqih Mansyur Hidayat)

Murianews, Jepara – Nama sate kere semakin melejit di kalangan pecinta kuliner di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Beberapa food traveler yang membuat konten tentang sate kere mendapat apresiasi positif dari warganet.

Sebelum viral di media sosial beberapa waktu terakhir, sate kere yang berada di Kelurahan Pengkol Mbelik, Kecamatan Jepara itu sudah punya pelanggan cukup banyak. Namanya saja yang sate kere, tetapi penikmatnya justru lidah-lidah para pejabat.

Di Kota Ukir, Nur Hamidun adalah satu-satunya penjual sate kere. Dia mulai menjual sate kere sejak pandemi Covid-19 melanda.

Tak mudah baginya merintis usaha kuliner yang sama sekali asing di telinga masyarakat Jepara. Apalagi ditambah dengan kondisi pandemi yang sangat ketat pembatasan. Dia memulai menjual sate kere dengan sistem Cash On Delievery (COD). Dua kali sudah dia berganti lokasi berjualan hingga seramai saat ini.

“Saya waktu itu berniat membawa hal baru ke Jepara. Siapa tahu bisa menambah warna kuliner di Jepara,” kata Hamidun.

Sate kere buatan Hamidun berbahan dasar koyor atau lemak sapi. Kuliner ini merupakan salah satu kuliner khas Yogyakarta.

Menurutnya, sate kere bukan hanya kuliner asal-asalan. Ada sejarah panjang tentang kehidupan rakyat pada sate kere.

Dari sumber yang dia terima, pada era penjajahan rakyat pribumi sangat jelata. Rakyat tidak sanggup membeli daging karena tak punya uang. Bahkan ada yang berkisah bahwa rakyat pribumi dilarang memakan daging. Rakyat hanya boleh memakan koyor.

“Setahu saya, di Jogja sendiri sudah jarang ada sate kere,” kata dia.

Spekulasi bisnis Hamidun di luar ekspektasi. Rupanya lidah warga Jepara cukup gandrung dengan sate kere. Setiap hari, Hamidun menghabiskan sedikitnya tujuh kilogram koyor untuk dijadikan sate kere.

Memasak sate kere juga tak mudah. Setidaknya butuh lima jam untuk menggodok koyor sebelum dibakar agar teksturnya menjadi lembut. Berbeda dengan sate kambing atau daging lainnya, Hamidun memadukan sate kere dengan sambal kacang.

Kini Hamidun selalu kewalahan setiap harinya. Saat warungnya buka mulai pukul 12.00 WIB sampai habis, dia hampir kesulitan istirahat.

Para pejabat dan pelanggan lainnya silih berganti untuk memanjakan lidahnya dengan lezatnya sate kere. Kuliner yang sarat tentang sejarah kehidupan rakyat yang harganya tetap merakyat.

Editor: Budi Santoso

Komentar