Selasa, 27 Februari 2024

Pikul Dagangan, Penjual Lentog Kudus Ini Beri Sensasi Jadul

Zulkifli Fahmi
Selasa, 31 Oktober 2023 17:52:00
Pak Jon saat menyajikan lentog tanjung dagangannya. (Murianews/Zulkifli Fahmi)

Murianews, Kudus – Suasana di Jalan Menara Kudus cukup ramai di pagi hari tadi, Selasa (31/10/2023). Banyak peziarah yang mengabadikan momen kedatangannya dengan berfoto berlatar Masjid Menara Kudus.

Pemandangan itu menjadi hal biasa di daerah tersebut. Namun, ada satu pemandangan yang cukup menarik. Yakni, adanya pedagang lentog yang menjajakan dagangannya dengan dipikul. Namanya Harjono (65).

Warga Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu sendiri sebenarnya sudah memiliki tempat mangkal untuk berdagang lentog di dekat MTs NU Banat Kudus, Jalan KHR Asnawi Kabupaten Kudus. Namun, tempat itu dipasrahkan pada istrinya.

Harjono memilih menawarkan dagangannya dengan berkeliling. Sudah sejak sekitaran 2006 Harjono menjajakan lentog dengan cara dipikul.

”Mungkin tinggal saya yang jualan lentog sambil dipikul,” kata Pria yang akrab disapa Pak Jon ini pada Murianews.com saat ditemui di dekat Toko Mukena Arofah Jalan Menara Kudus, Selasa (31/10/2023).

Pak Jon biasanya mulai berkeliling sejak pukul 09.00 WIB. Rutenya pun dari tempat dagangan istrinya itu, kemudian masuk ke gang kecil menuju MTs Qudsiyah, dan di Jalan Menara Kudus.

Dari sana, ia kemudian berjalan ke TK Nawakartika. Selepas zuhur atau sekitar pukul 12.00 WIB, Harjono kemudian pulang.

Harga lentog yang dijajakan pun sangat ramah di kantong, yakni cukup Rp 6000 satu porsinya. Dalam sehari Pak Jon mampu menjajakan lentog sebanyak 60 porsi.

”Paling banyak ya 60 porsi. Habis enggak habis, saya bawa pulang,” kata Harjono.

Harinya berjualan pun tak tentu. Dalam sepekan, ia bisa mengambil libur dua atau tiga kali. Kalau ada pesanan, ia juga tak berjualan.

Harjono menceritakan, sebelum berjualan lentog, ia dulunya merupakan buruh pabrik di Jakarta. Setelah terjadi krisis moneter pada 1998, ia turun kehilangan pekerjaan karena PHK.

Ia kemudian pulang ke Kudus dan kemudian jualan keliling menjajakan gerabah. Setelah lahir anak ke empatnya, ia kemudian mulai berjualan lentog. Saat itu, ia sempat dipandang sinis kerabatnya.

”Dulu ada kerabat bilang dodolan lentog ngono iku isin tah ora (jualan lentog gitu apa enggak malu),” katanya menirukan ucapan kerabatnya itu.

Namun, Harjono selalu ingat pesan ayahnya, jangan malu berjualan apapun selama halal.

Mbogae kok isin. Aku dipesen paaku, kue nak mbogae aja isin ning nak utang isin (kerja kok isin. Saya mendapat pesan dari bapak saya, kamu kalau kerja jangan malu, tapi kalau utang baru malu),” ujarnya.

Komentar