Es Dawet Moro Seneng, Kuliner Legend Kudus yang Eksis Hingga Kini
Murianews
Selasa, 8 Juli 2025 23:30:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Salah satu kuliner legend yang bisa kamu temui di Pasar Kliwon Kudus, Jawa Tengah adalah Es Dawet Moro Seneng. Lokasinya berada di Gang Jayan, Mlati Lor. Atau tepatnya sebelah timur Pasar Kliwon.
Warungnya berukuran empat meter persegi, di depan dan samping penjual terdapat kursi panjang tempat pelanggan duduk. Tidak ada sekat, hanya satu ruangan kotak. Meski sederhana, nyatanya tata letak yang seperti ini justru lebih mengakrabkan penjual dan pembeli.
Es Dawet Moro Seneng menyediakan dua varian menu sirup. Yakni rasa frambos dan gula aren. Kombinasi rasa manis dari sirup, gurihnya santan dan segarnya es menyatu dalam satu gelas yang mampu meredakan dahaga ditengah cuaca Kudus yang sedang terik.
Dalam sehari, warung usaha keluarga yang kini di kelola oleh Sugiarto ini bisa menjual 500 sampai 700 porsi es dawet. Satu gelasnya dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau yakni Rp 7.000 per porsi.
Es dawet Moro Seneng sendiri sudah berdiri dari generasi dan menjangkau semua lapisan masyarakat mulai dari pelajar, pedagang hingga wisatawan lokal yang datang ke pasar.
Sugiarto sebagai penerus usaha pun menceritakan sepenggal kisah dari warung Es Dawet Moro Seneng itu.
Dia mengatakan jika warungnya ini merupakan warisan dari ayahnya yang meninggal pada tahun 1993. Konon warung ini sudah ada sejak tahun 1970 dimulai dari berjualan sambil dipikul, selain itu juga pernah berjualan sambil naik sepada unta.
Dua cabang...
- 1
- 2



