Diakui Sugiarto, warungnya mampu menjual es dawet kliwon sebanyak 700 gelas perharinya saat ramai, sedangkan saat kondisi sepi hanya mampu 200 gelas saja.
Harga per porsinya pun masih terjangkau, yakni sebesar Rp 7 ribu. Sugiarto tak membedakan tarif antar varian rasa yang dijualnya.
”Paling ramai pembeli di hari libur seperti weekend dan tanggal merah, dan sepinya saat musim penghujan,” tambah Sugiarto.
Bukan tanpa pasang surut, Sugiarto melakoni usaha es dawet ini juga mendapati kesulitan, seperti halnya harga bahan baku gula aren yang sempat naik beberapa waktu yang lalu. Hal ini membuatnya mau tak mau menaikan harga jual dawet untuk bertahan.
“Paling gula aren yang harganya sempat naik kemarin,” sambung Sugiarto.
Sugiarto mengaku, dirinya menyerahkan diri kepada yang kuasa terkait banyak sedikitnya pembeli saat ini ditengah gempuran minuman kekinian.
Manajemen warung es dawet ini, dijalankan oleh Sugiarto bersama keluarganya dengan mayoritas karyawannya adalah masih sanak saudara dengan jumlah sebanyak tujuh orang karyawan.
Sugiarto berharap, usahanya mampu menambah cabang lagi keluar kota. Dan mampu bersaing ditengah gempuran minuman kekinian yang sedang menjamur.
Murianews, Kudus – Teriknya cuaca saat berbelanja di Pasar Kliwon, rasanya kurang lengkap jika tidak membeli salah satu minuman legendaris di Kudus ini. Banyak orang menyebutnya sebagai es dawet Kliwon, namun kuliner ini memiliki nama asli Es Dawet Moro Seneng Kliwon.
Warung Es Dawet Moro Seneng ini terletak di Gang Jayan, Mlati Lor, tepatnya di timur belakang Pasar Kliwon. Warung ini berukuran empat meter persegi dengan ruangan yang tak terlalu luas, namun cukup untuk pelanggan singgah duduk membeli.
Berdiri sejak tahun 1970, kini warung dawet moro seneng diwariskan ke generasi kedua mereka, ia adalah Sugiarto (45).
”Dulu kami orang Welahan Jepara kemudian merantau ke kota-kota hingga memilih berjualan di Kudus dan rejekinya ramai di sini,” ujar Sugiarto saat diwawancarai, Selasa (8/7/2025).
Es dawet Moro Seneng menyediakan dua varian menu, yakni es dawet dengan sirup rasa frambos dan gula jawa. Pelanggan dapat memesan tanpa menggunakan es ataupun sedikit es. Semua bahan diproduksi sendiri, termasuk sirup yang digunakannya.
Sugiono menuturkan, warungnya memiliki cabang didua tempat saja. Yang pertama, berada di dalam Pasar Kliwon lantai dua, dan di Gang Jayan ini,
”Pertama buka di dalam pasar, kemudian setelah renovasi kebakaran Pasar Kliwon kami membeli ruko disini,” imbuh Sugiarto.
Pembeli es dawet moro seneng datang dari berbagai kalangan, mulai dari kawula muda hingga orang dewasa. Baik dari warga setempat hingga luar kota.
Ratusan porsi...
Diakui Sugiarto, warungnya mampu menjual es dawet kliwon sebanyak 700 gelas perharinya saat ramai, sedangkan saat kondisi sepi hanya mampu 200 gelas saja.
Harga per porsinya pun masih terjangkau, yakni sebesar Rp 7 ribu. Sugiarto tak membedakan tarif antar varian rasa yang dijualnya.
”Paling ramai pembeli di hari libur seperti weekend dan tanggal merah, dan sepinya saat musim penghujan,” tambah Sugiarto.
Bukan tanpa pasang surut, Sugiarto melakoni usaha es dawet ini juga mendapati kesulitan, seperti halnya harga bahan baku gula aren yang sempat naik beberapa waktu yang lalu. Hal ini membuatnya mau tak mau menaikan harga jual dawet untuk bertahan.
“Paling gula aren yang harganya sempat naik kemarin,” sambung Sugiarto.
Sugiarto mengaku, dirinya menyerahkan diri kepada yang kuasa terkait banyak sedikitnya pembeli saat ini ditengah gempuran minuman kekinian.
Manajemen warung es dawet ini, dijalankan oleh Sugiarto bersama keluarganya dengan mayoritas karyawannya adalah masih sanak saudara dengan jumlah sebanyak tujuh orang karyawan.
Sugiarto berharap, usahanya mampu menambah cabang lagi keluar kota. Dan mampu bersaing ditengah gempuran minuman kekinian yang sedang menjamur.
Penulis : Rismatul Janah (Mahasiswa PPL UIN Sunan Kudus)
Editor: Anggara Jiwandhana